BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Salah satu ilmu dasar yang mendukung kemajuan dan
perkembangan IPTEK adalah matematika. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Soejadi
(1993:1) bahwa matematika adalah salah satu ilmu dasar, yang tidak perlu
disangsikan lagi merupakan tiang topang perkembangan IPTEK.
Matematika di samping dapat berkembang mandiri, juga berkembang atas tuntutan
keperluan bidang - bidang lain.
Oleh sebab itu, penguasaan materi matematika bagi seluruh siswa perlu
ditingkatkan demi kelangsungan hidup di masa mendatang dan dalam kebutuhan
sehari - hari. Dalam penyelenggaraan pendidikan, guru memegang peranan yang
sangat penting, dimana guru bertanggung jawab menyebarluaskan gagasan - gagasan baru
kepada siswa melalui proses belajar mengajar dalam kelas. Mengingat penggunaan
matematika diperlukan di segala bidang, maka pengajaran matematika pada siswa
harus benar - benar dioptimalkan baik kualitas maupun kuantitasnya.
Dalam proses belajar mengajar, guru
haruslah memiliki kemampuan dan wawasan yang luas serta terampil menjelaskan
materi dan juga harus dapat membangkitkan motivasi atau gairah belajar siswa
sehingga siswa tidak mengalami kesulitan belajar. Dengan melihat hasil belajar
siswa maka dapat diketahui sejauh mana materi yang dikuasai, sehingga guru
dapat memberikan bimbingan yang lebih baik dalam upaya meningkatkan mutu
pendidikan untuk pencapaian tujuan pengajaran yang efektif dan efisien.
Matematika menekankan pada pemecahan suatu masalah,
masalah dalam matematika biasanya disajikan dalam bentuk soal matematika.
Sebagaimana yang dikemukakan Hudojo (1979:157) bahwa suatu pertanyaan akan
merupakan suatu masalah hanya jika seseorang tidak mempunyai aturan/hukum
tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan
tersebut.
Pendidikan matematika memiliki peran yang sangat
penting karena matematika adalah ilmu dasar yang digunakan secara luas dalam
berbagai bidang kehidupan. Melalui pembelajaran matematika siswa diharapkan
dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, logis, sistematis, cermat,
efektif, dan efisien dalam memecahkan masalah. Pendidikan matematika merupakan
bagian yang integral dari pendidikan nasional. Hal ini disebabkan karena
maematika merupakan salah satu komponen penting dalam rangka peningkatan sumber
daya manusia. Oleh sebab itu, pemerintah melalui Kementrian Pendidikan Nasional
menetapkan matematika sebagai salah satu pelajaran wajib pada jenis dan jenjang
pendidikan formal.
Tujuan utama pembelajaran
matematika di Sekolah Menengah Atas sebagaimana
dikemukakan Soedjadi (2000 : 43) adalah (1) melatih
cara berfikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan; (2) mengembangkan
aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi, intuisi dan penemuan dengan
mengembangkan pemikiran divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi
serta mencoba - coba, (3) mengembangkan
kemampuan memecahkan masalah dan (4) mengembangkan kemampuan menyampaikan
informasi atau mengkomunikasikan gagasan. Hal tersebut sejalan dengan pendapat
Musser dan Burger (dalam Lestari, 2010: 7) bahwa tujuan mempelajari matematika adalah
sebagai alat bantu pemecahan masalah yang meliputi empat tahap, yaitu mengerti
permasalahan, memikirkan permasalahan, menyelesaikan permasalahan dan memeriksa
kembali cara yang digunakan dalam memecahkan masalah.
Tercapai atau tidaknya tujuan
pendidikan dan pembelajaran matematika salah satunya dapat dinilai dari
keberhasilan siswa dalam memahami matematika dan memanfaatkan pemahaman ini
untuk menyelesaikan persoalan - persoalan matematika maupun ilmu - ilmu yang lain. Untuk itu, perlu dilakukan evaluasi atau tes hasil belajar
siswa. Matematika menekankan pada pemecahan suatu masalah, masalah dalam
matematika biasanya disajikan dalam bentuk soal matematika. Suatu pertanyaan
akan merupakan suatu masalah hanya jika seseorang tidak mempunyai aturan/hukum
tertentu yang segera dapat dipergunakan untuk menemukan jawaban pertanyaan
tersebut.
Dalam pengajaran matematika,
pertanyaan yang dihadapkan kepada siswa biasanya disebut soal. Latihan soal
dalam matematika dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) Latihan soal yang diberikan
pada waktu belajar matematika adalah bersifat berlatih agar terampil atau
sebagai aplikasi dari pengertian yang baru saja diajarkan, (2) Latihan berupa
masalah yang menghendaki siswa untuk menggunakan sintesis atau analisis. Untuk
menyelesaikan latihan bentuk ini siswa harus menguasai hal - hal pada materi yang telah dipelajari sebelumnya
yaitu mengenai pengetahuan, keterampilan dan pemahaman, yang nantinya akan
digunakan dalam situasi baru.
Soal matematika
diberikan kepada siswa sebagai alat evaluasi untuk mengukur kemampuan yang
dimiliki siswa setelah menerima suatu materi. Dari hasil evaluasi ini dapat
diketahui sejauh mana keberhasilan proses belajar mengajar dan letak kesalahan
siswa. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika maka sumber kesalahan yang
dilakukan siswa harus dapat segera diatasi karena siswa akan selalu mengalami
kesulitan jika kesalahan sebelumnya tidak diperbaiki terutama soal yang
memiliki karakteristik yang sama. Sehingga dengan menganalisis kesalahan siswa,
guru dapat mengetahui hasil belajar siswa yang nantinya dapat digunakan untuk
memperbaiki proses belajar mengajar berikutnya. Dalam pembelajaran matematika memerlukan tahap - tahap yang hirarkis, yakni bentuk belajar yang
terstruktur dan terencana berdasarkan pada pengetahuan dan latihan sebelumnya,
yang menjadi dasar untuk mempelajari materi selanjutnya.
Namun umumnya siswa kurang
memahami dan menguasai hal tersebut yang berakibat timbulnya kesalahan siswa
dalam menyelesaikan soal - soal matematika. Pada dasarnya kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal matematika antara
lain disebabkan kurangnya penguasaan konsep matematika. Kesalahan siswa yang
lain dalam menyelesaikan soal matematika yaitu kurangnya ketelitian dalam
menghitung. Siswa seringkali salah dalam menghitung suatu bentuk perkalian,
pembagian, penjumlahan dan pengurangan.
Guna mengatasi kesalahan yang
dihadapi siswa, masalah itu perlu ditemukan dan dipastikan sumbernya,
menanganinya, dengan harapan memecahkan masalahnya. Berbagai upaya telah
dilakukan oleh guru guna mengatasi masalah kesulitan belajar khususnya dalam
menyelesaikan soal - soal matematika. Usaha-usaha yang telah dilakukan guru
tampaknya belum membuahkan hasil yang optimal dalam meningkatkan kemampuan
menyelesaikan soal - soal matematika.
Menurut Sizzilia (Muslimah, 2009:3) kesalahan yang dilakukan
siswa, pada umumnya disebabkan karena kesulitan dalam menggunakan konsep,
prinsip maupun kesulitan dalam memahami maksud dari soal. Oleh karena itu diperlukan
informasi yang jelas sehubungan dengan kesulitan siswa terutama dalam
memecahkan soal Persamaan Linier Dua Variabel untuk meningkatkan kemampuan
dibidang matematika. Informasi tersebut digunakan untuk memenuhi sebuah
alternatif pembelajaran yang bertujuan
untuk menggurangi kesulitan yang dialami siswa.
Persamaan Linier Dua Variabel
merupakan salah satu materi dalam mata pelajaran matematika yang diajarkan pada
siswa di jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Persamaan Linier Dua Variabel
adalah materi yang memerlukan penyelesaian dengan tingkat ketelitian yang cukup
tinggi karena terdapat beberapa cara dalam proses penyelesaiannya terutama
dalam menentukan nilai variabel. Oleh karena itu, banyak siswa yang mengalami
kesulitan dan melakukan kesalahan dalam menentukan nilai variabel.
Sehingga pada setiap materi siswa diharapkan benar – benar mengusai
konsep yang diberikan. Karena konsep yang telah dipelajari akan digunakan untuk
mempelajari materi berikutnya. Menurut Hudoyo (1988:95) “Matematika bukanlah
suatu bidang studi yang sulit dipelajari asalkan strategi penyampaiannya cocok
dengan kemampuan dipelajarainya”.
Dari beberapa pendapat diatas penulis
dapat mengambil kesimpulan bahwa untuk
mempelajari matematika sangat dibutuhkan
ketelitian dan pemahaman konsep supaya
dapat mengatasi masalah kesulitan belajar khususnya
dalam menyelesaikan soal - soal matematika. Kenyataan
di lapangan menunjukan bahwa siswa banyak mengalami kesulitan dalam mengerjakan
soal – soal matematika. Begitu juga dengan siswa SMA Negeri 01 Kodi bahwa
menurut informasi dari tenaga pengajar mata pelajaran matematika bahwa nilai mata pelajaran masih dibawah nilai rata
– rata. Hal ini menunjukkan bahwa siswa masih banyak mengalami kesulitan,
Sehingga menyebabkan banyaknya kesalahan dalam mengerjakan soal – soal
matematika. Salah satu langkah untuk mengetahui hal tersebut adalah
menganalisis kesalahan siswa dalam mengerjakan soal matematika. Untuk itu
penulis dalam penelitian ini menangambil judul “ Analisis Kesalahan dan solusinya
dalam Menyelesaikan Soal Sistem Persamaan Linier Dua Varibel pada Siswa Kelas X SMA Negeri 01
Kodi”.
Berdasarkan uraian latar
belakang di atas, maka peneliti termotivasi untuk melakukan penelitian dengan materi persamaan linier dua variabel sebagai salah satu upaya mengatasi dan mengurangi kesalahan siswa dalam
proses pelajaran matematika khususnya dalam menyelesaikan soal - soal Persamaan Linier Dua Variabel siswa kelas X SMA Negeri 01 Kodi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi
masalah di atas, maka permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.
Jenis - jenis kesalahan
apa saja yang dilakukan oleh
siswa dalam menyelesaikan soal - soal tentang
Sistem Persamaan Linier Dua Variabel siswa kelas
X semester I SMA Negeri 01 Kodi, NTT?
2.
Bagaimana solusi dari soal – soal Sistem
Persamaan Linier Dua Variabel siswa Kelas X semester I SMA Negeri 01 Kodi, NTT?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di
atas, maka tujuan yang ingin dicapai
oleh penulis adalah:
1.
Mengetahui jenis - jenis
kesalahan yang dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal – soal Sistem Persamaan Linear Dua Variabel pada siswa Kelas X Semester 1 SMA Negeri 01 Kodi, NTT.
2.
Memberikan bimbingan solusi dari soal – soal Persamaan
Liniar Dua
Variabel siswa kelas X semester I SMA Negeri 01 Kodi, NTT.
1.4
Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Secara Umum penelitian ini dapat
memberikan ilmu pengetahuan kepada
siswa dalam upaya meminimalkan siswa melakukan kesalahan dalam menentukan nilai
variabel.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi guru matematika supaya dapat lebih teliti dalam menanamkan konsep
Sistem Persamaan Liniar Dua Variabel kepada siswa sehingga tidak mengalami
kesulitan dalam mengerjakan soal yang berhubungan dengan menentukan nilai
variabel.
b. Bagi siswa dapat mengerti dan lebih memahami
konsep tentang Sistem
Persamaan Liniar Dua Variabel sehingga dapat
menyelesaiakan sooal – soal matematika terutama yang berhubungan dengan
menentukan nilai variabel tanpa mengalami kesulitan dan kesalahan dalam penyelesaiannya.
c. Bagi peneliti dapat memberi masukan bagi peneliti
lain yang ingin menganalisis materi matematika SMA yang berkaitan dengan Sistem
Persamaan Linier Dua Variabel.
1.5 Definisi Operasional
Untuk menghindari terjadinya perbedaan
penafsiran tentang judul penelitian ini maka akan dijelaskan istilah – istilah
sebagai berikut:
1. Analisis kesalahan adalah pendeskripsian jenis – jenis kesalahan yang
dilakukan oleh siswa dan alasan – alasan tentang penyebab terjadinya kesalahan.
Analisis kesalahan ini mempunyai langkah – langkah sebagai berikut:
a.
Mengumpulkan
data kesalahan
b.
Mengidentifikasi
kesalahan
c.
Mengklarifikasi
kesalahan
d.
Memperkirakan
daerah rawan kesalahan
2. Kesalahan siswa meliputi kesalahan Konseptual
dan kesalahan Prosedural.
a. Kesalahan Konseptual adalah kesalahan
yang dilakukan oleh siswa dalam menafsirkan istilah, konsep, dan prinsip dalam
penyelesaian soal – soal matematika. Termasuk juga kurang dalam menggunakan
rumus atau teorema dan tidak menuliskan atau kurang tepat dalam menuliskan
rumus atau teorema.
b. Kesalahan prosedural adalah kesalahan
dalam menyusun langkah – langkah yang bertahap, berurutan, dan teratur untuk
menyelesaikan suatu masalah.
3. Kriteria
jenis kesalahan siswa meliputi kriteria jenis kesalahan konseptual dan
kriteria jenis kesalahan Prosedural yaitu:
a. Kriteria jenis kesalahan konseptual adalah
kesalahan menafsirkan konsep dalam melakukan operasi pembagian, perkalian,
penjumlahan dan pengurangan.
b. Kriteria dan jenis kesalahan prosedural adalah
kesalahan karena tidak melanjutkan proses penyelesaian, kesalahan menuliskan
soal kembali, kesalahan dalam memahami dan mencermati perintah soal, kesalahan
dalam melakukan operasi perkalian dan pembagian, kesalahan dalam melakukan operasi penjumlahan dan pengurangan, dan
kesalahan tidak menjawab soal.
4. Solusi yang dimaksud dari penelitian ini adalah
proses pencarian jawaban berdasar langkah – langkah yang benar. Solusi dari
menyelesaiakan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel adalah usaha untuk
memberikan suatu proses penyelesaian SPLDV dengan langkah – langkah yang benar.
5. Persamaa Linier Dua Variabel adalah persamaan yang
mengandung dua variabel dimana pangkat/derajat tiap – tiap variabelnya sama
dengan satu.
Bentuk umum:
SPLDV :
disebut Variabel.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Belajar
Upaya meningkatkan
prestasi siswa sangat tergantung bagaimana proses belajar yang dilakukan oleh
siswa yang sedang belajar itu sendiri. Pentingnya proses belajar ini maka banyak
ahli psikologi pendidikan yang telah mencurahkan perhatian terhadap masalah
belajar. Belajar merupakan proses penting bagi perubahan perilaku manusia dan
ia mencakup segala sesuatu yang dipikirkan dan dikerjakan. Ada banyak pendapat yang
mengemukakan tentang pengertian belajar
yaitu sebagai brikut:
1. Menurut Slameto (2003: 2) menyatakan
bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk
memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai
hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungan.
2. Menurut Simanjuntak Sunarsi (2009) menjelaskan belajar adalah perubahan yang relatif
menetap dalam potensi tingkah laku yang terjadi sebagai akibat dari latihan
dengan penguatan dan tidak termasuk perubahan - perubahan karena
kematangan, kelelahan atau kerusakan pada susunan syaraf atau dengan kata lain
bahwa mengetahui dan memahami sesuatu sehingga terjadi perubahan dalam diri
seseorang yang belajar.
3.
Menurut Sudjana (2002 : 5) belajar adalah perubahan yang relatif
permanen dalam suatu kecenderungan tingkah laku sebagai hasil dari praktek dan
latihan. Hal ini seperti
dikemukakan:
4.
Djamarah (2002 : 11) bahwa
belajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihan artinya
tujuan kegiatan adalah perubahan tingkah laku.
5.
Menurut Winkel (1996: 53),
belajar adalah salah satu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam
interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam
pengetahuan, pemahaman, keterampilan, dan sikap - sikap. Perubahan itu bersifat
relatif konstan dan berbekas.
2.2 Faktor - faktor yang Mempengaruhi
Belajar
Menurut Slameto (2003: 54),
faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu
faktor intern dan faktor ekstern.
1. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor - faktor
yang ada di dalam diri individu yang sedang belajar. Faktor ini meliputi:
a. Faktor jasmani (kesehatan dan
cacat tubuh).
b. Faktor psikologis (minat,
bakat, dan motif pribadi).
c. Faktor kelelaha (kelelahan jasmani
dan kelelahan rohani).
2. Faktor Ekstern
Faktor ekstern adalah faktor - faktor yang ada di luar
individu yang sedang belajar. Faktor ini meliputi:
a.
Faktor
keluarga (keadaan ekonomi orang tua, keharmonisan keluarga, dan latar belakang
budaya).
b.
Faktor
sosial (metode mengajar, kurikulum, alat belajar, dan relasi antara siswa
dengan siswa).
c.
Faktor
masyarakat (kegiatan siswa dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan
bentuk kegiatan masyarakat).
Tidak
jauh berbeda dengan Slameto, Suryasubrata (2004: 233) juga membedakan faktor -
faktor yang mempengaruhi belajar menjadi dua faktor, yaitu:
Ø Faktor Intern:
i.
Faktor
fisiologis (Misalnya: kesehatan dan cacat tubuh).
ii.
Faktor
psikologis (Misalnya: minat, bakat, dan motif pribadi).
Ø Faktor Ekstern:
i.
Faktor
non sosial (Misalnya: cuaca, suhu, waktu (pagi, siang, atau sore) lokasi, dan
alat pelajaran).
ii.
Faktor
sosial atau manusia (Misalnya: keluarga, teman, dan masyarakat).
2.3
Pembelajaran Matematika
Pembelajaran adalah upaya menciptakan iklim dan pelayanan
terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa yang beragam
agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa
dengan siswa. Pembelajaran matematika adalah suatu proses atau kegiatan guru
mata pelajaran matematika dalam mengajarkan matematika kepada para siswanya
yang di dalamnya terkandung upaya guru untuk menciptakan iklim dan pelayanan
terhadap kemampuan, potensi, minat, bakat, dan kebutuhan siswa tentang
matematika yang amat beragam agar terjadi interaksi optimal antara guru dengan
siswa serta siswa dengan siswa dalam mempelajari matematika tersebut.
Dalam pembelajaran guru akan senantiasa diobservasi,
dilihat didengar, dan ditiru semua perilakunya oleh peserta didik. Dari proses
observasi mungkin juga menirukan perilaku guru, diharapkan terjadi proses
internalisasi. Sehingga menumbuhkan proses penghayatan pada setiap diri siswa
untuk kemudian diamalkan (Sardiman, 2001 : 26-28).
Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia (2001: 723), “Matematika adalah ilmu tentang bilangan - bilangan, hubungan antar
bilangan dan prosedur operasional yang dipergunakan dalam penyelesaian masalah
mengenai bilangan”.
Menurut Bruner Belajar
matematika merupakan
suatu proses belajar tentang konsep-konsep dan struktur - struktur matematika
yang terdapat di dalam materi pelajaran dan mencari hubungan - hubungan tentang
konsep dan struktur - struktur matematika. Bruner melukiskan anak - anak berkembang melalui tiga tahap
perkembangan mental :
1)
Enaktif, yaitu anak - anak di dalam belajarnya
menggunakan manipulasi obyek - obyek
secara langsung.
2)
Ikonik, yaitu kegiatan anak-anak mulai
menyangkut mental yang merupakan gambaran dari obyek - obyek. Pada
tahap ini anak tidak memanipulasi dengan
menggunakan gambaran dari obyek.
3)
Simbolik, yaitu tahap memanipulasi simbol - simbol secara langsung dan
tidak ada lagi kaitannya dengan obyek - obyek (Dahar, 198 : 124).
Menurut
Johnson dan Myklebust dalam Mulyana (2001:252),
“Matematika adalah bahasa simbolis yang fungsi praktisnya untuk mengekspresikan
hubungan
- hubungan kuantitatif dan
keruangan sedangkan fungsi teoritisnya adalah untuk memudahkan berpikir. Kline dalam
Mulyana (2001:252) juga menyatakan, “Matematika merupakan bahasa simbolis dan
ciri utamanya adalah penggunaan cara bernalar deduktif, tetapi juga tidak
melupakan cara bernalar induktif”.
2.4 Menyelesaiakan soal matematika
Dalam pengajaran matematika,
pertanyaan yang diharapkan kepada siswa biasanya di sebut soal. Menurut Hudojo (2009:12) mengatakan bahwa
soal matematika dibedakan menjadi dua bagian.
Kedua bagian tersebut adalah sebagai berikut:
1. Latihan (soal) yang diberikan
pada waktu belajar matematika adalah bersifat berlatih agar terampil atau
sebagai aplikasi dari pengertian yang baru saja diajarkan. Soal seperti ini
dapat diselesaikan dengan prosedur rutin yang telah biasa dilakukan oleh siswa.
2. Masalah tidak hanya seperti
latihan tadi, menghedaki siswa untuk menggunakan sintesis atau analisis. Untuk menyelesaikan
suatu masalah, siswa tersebut harus menguasai hal – hal yang telah dipelajari
sebelumnya yaitu mengenai pengetahuan, ketrampilan dan pemahaman, tetapi dalam
hal ini siswa menggunakan pada situasi baru.
Lebih lanjut, Hudolo
(2005:124) mengatakan bahwa syarat suatu pertanyaan yang merupakan masalah
adalah sebagai berikut:
1.
Pertanyaan
bagi siswa merupakan tantang siswa tersebut
untuk menjawabnya.
2.
Pertanyaan
tersebut tidak dapat dijawab dengan prosedur rutin yang telah diketahui siswa.
Karena itu, faktor waktu untuk menyelesaikan masalah jangan dipandang sebagai
faktor yang esensial.
Dalam menyelesaikan suatu
masalah siswa tersebut harus mengusai hal – hal yang telah dipelajari
sebelumnya yaitu mengenai pengetahuan, ketrampilan dan pemahaman tetapi dalam
hal ini ia menggunakannya didalam situasi baru.
Selain memperhatikan langkah –
langkah penyelesaian tersebut diatas, siswa juga dituntut lancar membaca dan
mampu memahami soal, serta mampu membuat model atau kalimat matematika.
Disamping itu siswa juga harus dapat memilih rumus yang sesuai
jika dibutuhkan serta trampil melakukan
perhitungan, dan yang terakhir mampu menyimpulkan jawaban yang ditanyakan.
2.5 Kesalahan
dalam menyelesaikan soal – soal matematika
Kesalahan dalam menyelesaikan
soal – soal matematika dapat disebabkan oleh kesulitan siswa dalam memahami
ciri – ciri matematika. Ciri – ciri matematika menurut Hudojo (2009:14-15)
adalah sebagai berikut:
1.
Objek
matematika adalah abstrak
Begle menyatakan bahwa obyek atau sasaran
penelaahan matematika adalah abstrak, yaitu fakta, operasi dan prinsip.
Sedangkan Frederick H. Bell (2009:12) menyatakan bahwa obyek langsung dalam
pembelajaran matematika adalah fakta, skill, konsep, dan prinsip.
2.
Berfikir
matematika dilandasi kesepakatan – kesepakatan yang di sebut aksioma – aksioma.
3.
Cara
bernalar deduktif
Belajar matematika harus mampu membawa siswa
kearah memahami ciri – ciri matematika tersebut.oleh karena itu, tidaklah
mustahil jika dalam mempelajari
matematika siswa mengalami kesulitan.
Menurut W. Poespoprojo (2009:12), Ukuran untuk
menentukan apakah suatu pemikiran itu benar atau salah bukanlah rasa senang
atau tidak senang, melainkan cocok atau tidaknya dengan realita dan fakta.
Kesalahan mempunyai kaitan erat dengan kebenaran karena kesalahan adalah
mengatakan hal realita dan fakta.
Sehubungan dengan penentuan kebenaran terhadap hasil kebenaran
terhadap hasil pekerjaan siswa dalam
mengerjakan soal uraian, Sudjana (2009:12) memberikan aspek – aspek yang perlu
diperhatikan adalah sebagai berikut:
1.
Kebenaran
isi sesuai dengan kaidah – kaidah materi yang ditanyakan.
2.
Sistematika
atau urutan logis dari kerangka
berpikirnya yang dilihat dari penyajian gagasan jawaban.
3.
Bahasa
yang digunakan untuk mengekspresikan hasil pikirannya.
Penyebab kesalahan yang
dilakukan oleh siswa dalam menyelesaikan soal – soal matematika dapat dilihat
dari berbagai hal. Menurut Soedjadi (2011:1), dari kesalahan – kesalahan yang
dibuat oleh siswa pada Sistem Persamaan Linier Dua Variabel dapat
diklasifikasikan beberapa bentuk kesalahan, diantaranya :
1.
Kesalahan
prosedur dalam menggunakan algoritma (prosedur pekerjaan), misalnya kesalahan
melakukan opersi hitung
2.
Kesalahan
dalam mengorganisasikan data, misalnya kesalahan menuliskan apa yang diketahui,
apa yang ditanyakan dari suatu soal. Kesalahan mengurutkan, mengelompokkan dan
menyajikan data.
3.
Kesalahan
dalam pemanfaatkan simbol, tabel dan
grafik yang memuat suatu informasi.
4.
Kesalahan
dalam melakukan manipulasi secara matematis. Misalnya, kesalahan dalam
menggunakan/menerapkan aturan, sifat – sifat dalam menyelesaikan soal.
5.
Kesalahan
dalam menarik kesimpulan. Misalnya kesalahan dalam menuliskan kesimpulan dari
persoalan yang telah mereka kerjakan.
Adanya kesalahan – kesalahan
yang dilakukan oleh siswa dapat menjadi hal yang menguntungkan bagi pengajar
karena pengajar dapat mengambil dari setiap kesalahan yang dilakukan oleh siswa
demi perbaikan pengajaran yang sedang dan yang akan dilakukan. Manfaat
kesalahan bagi siswa, yaitu siswa yang telah menyadari tentang kesalahan yang dilakukanya akan memberikan
reaksi, baik secara internal maupun secara eksternal, siswa akan menerima
kritik dari orang lain maupun memberi kritik bagi orang lain.
Dalam
penelitian ini siswa diberi soal - soal yang berkaitan dengan sistem persamaan
linier dua variabel, kemudian akan dianalisis adalah kesalahan penyelesaianya.
Adapun kesalahan yang dianalisis adalah kesalahan siswa dalam menyelesaikan
soal – soal yang berkaitan dengan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel yang
diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu kesalahan konseptual dan kesalahan
prosedural.
2.6
Analisis Kesalahan
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia (1996:37)
analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa dan untuk mengetahui
keadaan yang sebenar – benarnya. Analisis mempunyai
tujuan untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya. Analisis kesalahan sebagai
prosedur kerja mempunyai langkah – langkah tertentu. Menurut Tarigan (1988)
langkah – langkah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan data kesalahan
Penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif, maka analisis datanya adalah non statistik. Data yang
muncul berupa kata – kata dan bukan merupakan rangkaian angka. Dalam penelitian
ini, data diambil dari hasil tes. Berdasarkan jawaban siswa kemudian dianalisis
tahap – tahap atau langkah – langkah yang dilakukan oleh siswa. Data hasil tes
dan data hasil wawancara dibandingkan untuk mendapatkan data yang valid.
Kemudian, data yang telah valid disajikan untuk tiap jawaban dan faktor –
faktor apa yang menjadi penyebab terjadinya kesalahan.
2. Mengidentifikasi dan
mengklarifikasi kesalahan
Setelah semua materi
diberikan, maka soal tes diberikan kepada siswa untuk memperoleh data tentang
kesalahan – kesalahan yang dilakukan siswa. Kesalahan-kesalahan tersebut
kemudian diidentifikasi dan dikelompokkan menurut kesalahan yang sejenis.
Berdasarkan identifikasi terhadap jawaban tes siswa, maka diperoleh beberapa
siswa untuk diwawancarai. Wawancara ini bertujuan untuk mengkonfirmasikan
jawaban siswa pada tes serta untuk mengetahui faktor – faktor penyebab
kesalahan yang dilakukan. Dari hasil tes
dan hasil wawancara dilakukan triangulasi data yaitu membandingkan data yang
diperoleh dari keduakegiatan tersebut untuk memperoleh data yang valid.
3.
Menjelaskan Kesalahan
Berikutnya adalah kegiatan
menjelaskan kesalahan yang meliputi dua kegiatan yang dilakukan secara
bersamaan yaitu pemilihan data dan penyajian data. Pemilihan dan penyederhanaan
data yang melakukan agar tidak terjadi penumpukan data atau informasi yang sama.
4.
Mengoreksi kesalahan
Setelah menjelaskan
kesalahan dan mengelompokkan jenis kesalahan kemudian kegiatan mengoreksi
kesalahan. Mengoreksi kesalahan adalah penarikan kesimpulan dilakukan selama
kegiatan analisis berlangsung sehingga diperoleh suatu kesimpulan final.
2.7 Solusi Sistem Persamaan
Linear Dua Variabel
Dalam mencari solusi,
aspek – aspek kemampuan matematik penting seperti penerapan aturan pada
masalah, penemuan pola, pengeneralisasian, komunikasi matematik, dan lain –
lain dapat dikembangkan secara lebih baik. Temuan penelitian yang dilakukan
Bitter (1987) dan Capper (1984) menunjukkan bahwa pengajaran matematika harus
digunakan untuk memperkaya, memperdalam, memperluas kemampuan siswa dalam
pemecahan masalah matematika. Menurut Polya (1957), solusi soal pemecahan
masalah memuat empat langkah fase penyelesaian, yaitu:
a). Memahami
masalah
b). Merencanakan penyelesaiannya
c). Menyelesaiakan masalah sesuai rencana
d). Melakukan pengecekkan kembali terhadap semua langkah
yang dikerjakan.
Solusi dari penyelesaian
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel dengan langkah – langkah yang benar, yang
secara umum Sistem Persamaan Linier Dua Variabel sebagai berikut:
|
|
Jika
merupakan himpunan penyelesaian atau titik
potong dari Sistem Persamaan Linier Dua Variabel yang memenuhi
Maka siswa dapat mencari
bagaimana langkah yang benar dalam menentukan himpunan penyelesaian yang
memiliki satu solusi penyelesaian.
2.8
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel
a.
Persamaan linear
b.
Persamaan Linear Dua Variabel
1. Pengertian PLDV
Sebelum
mempelajari PLDV, mengingatkan tentang persamaan linier satu variabel (PLSV),
yaitu persamaan yang memuat satu
variabel. Dan pangkat dari variabelnya adalah satu. Persamaan
memiliki
dua variabel yaitu
serta
masing – masing variabel berpangkat dua.
merupakan
PLDV.
Kesimpulan:
Persamaan
Linear Dua Variabel adalah suatu persamaan yang mempunyai dua variabel, dan
masing – masing variabel berpangkat satu. Bentuk umum dari PLDV adalah
untuk
dan
; x dan y disebut
variabel.
c.
Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)
1. Pengertian SPLDV
Sistem Persamaan Linear
Dua Variabel (SPLDV) terdiri atas dua persamaan linear dua variabel, yang
keduanya tidak berdiri sendiri, kedua persamaan hanya memiliki satu varabel.
Berikut ini adalah contoh
SPLDV:
1.
dan
2.
dan
Bentuk umum SPLDV :
Dengan
disebut variabel (lambang bilangan pengganti
yang belum diketahui nilainya).
disebut koefisien (
bilangan yang selalu diikuti oleh satu atau lebih dari suatu variabel).
disebut konstanta ( lambang bilangan tetap
atau suku yang tidak mengandung variabel).
d.
Penyelesaian Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)
Cara penyelesaian SPLDV
dapat dilakukan dengan empat cara yaitu:
1.
Metode Subsitusi
Subsitusi artinya
menggantikan.
Contoh:
dan
Penyelesaian:
...............................(
pers.1)
..........(pers
.2 )
Pers (2) lebih sederhana, maka
disubsitusikan pada
Persamaan (1), sehingga:
(
)
+
2.
Metode Eliminasi
Dengan
cara menghilangkan salah satu variabel x atau y.
Contoh:
Tentukan
HP dari persamaan linier berikut dengan metod eliminasi:
................(
pers.1)
..................(pers
.2 )
Penyelesaian:
·
Mengeliminasi variabel x :
6
= 3
= 10 -
·
Mengeliminasi
variabel y :
2
= 1
= 15 -
Jadi, Himpunan
Penyelesaian = 2, -1
3.
Metode Grafik
Tentukan
HP dari sistem persamaan :
·
Persamaaan
|
X
|
2
|
0
|
|
Y
|
0
|
1
|
Garis
melalui
titik (2, 0) dan (0, 1)
·
Persamaaan
|
X
|
2
|
0
|
|
Y
|
0
|
4
|
Garis
melalui titik (2, 0) dan (0, 4)
Pada
gambar dibawah ini
dan
garis
saling
berpotongan dititik (2, 0).
Jadi,
Himpunan penyelesaian dari sistem diatas adalah:
(2, 0)
(0,4)
2x +y – 4 = 0
(0,1)
0 (2,0)
x + 2y – 2 = 0
4.
Metode Campuran
Metode
campuran ini adalah campuran antara metode eliminasi dengan metode subsitusi.
Contoh:
Tentukan
HP dari persamaan linear berikut dengan metode campuran:
x 1
x 3
y = 2
Harga y = 2, kemudian subsitusikan ke persamaan (2)
Jadi,
HP = 1, 2
e.
Penggunaan Sistem Persamaan
Linear Dua Variabel dalam kehidupan sehari – hari.
Contoh:
Sebuah
bilangan terdiri dari dua angka, penjumlahan tiga kali angka puluhan dan angka
satuanya 27, sedangkan selisihnya adalah 5. Tentukanlah bilangan itu
Penyelesaian:
Misalkan
: puluhan =
Satuan =
Model matematikanya adalah:
Eliminir s, maka didapat nilai
p.
–
4p = 22
P = 6
Untuk p = 6, subsitusikan pada salah satu
persamaan sehingga;
1
Jadi, bilangan itu
adalah 61.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Pendekatan
dan Jenis Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
kesalahan – kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal – soal yang berkaitan dengan Sistem Persamaan Linier
Dua Variabel.
Dalam analisis datanya digunakan metode kualitatif. Penelitian ini
bersifat deskriptif berupa hasil tertulis dan kata – kata lisan (
wawancara) dari orang – orang yang diamati. Penelitian
ini bersifat eksploratif karena dalam tujuan disebutkan untuk mengetahui faktor - faktor yang
menyebabkan siswa melakukan kesalahan dalam menyelesaikan soal matematika pada
pokok bahasan Persamaan Linier Dua Variabel.
Dalam hal ini Arikunto (1998 : 8) mendefinisikan “Bahwa penelitian
eksploratif adalah penelitian untuk
menentukan sebab musebab terjadinya peristiwa itu”. Gambaran tersebut diungkap dengan mendeskripsikan
keadaan yang sebenarnya tentang
kesalahan – kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal – soal yang
berkaitan dengan Sistem Persamaan Linier Dua Variabel. Oleh karena itu,
penelitian ini termasuk jenis penelitian deskripsi.
3.2 Kehadiran
Penelitian
Dalam penelitian kualitatif kehadiran
peneliti mutlat diperlukan. Kehadiran peneliti dalam penelitian ini terjadi
sebelum diadakan tes, waktu pelaksanaan tes dan saat wawancara. Sehingga dalam
penelitian ini peneliti bertindak sebagai pengumpul data, penafsir data dan
pelapor hasil penelitian.
3.3 Lokasi
Waktu dan subjek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri
01 Kodi, Jln. Karoso Bondo Kodi, Kecamatan Kodi Utara, Kabupaten Sumba
Barat Daya, Propinsi Nusa Tenggara
Timur. Pada semester ganjil tahun pelajaran 2012/2013 yaitu pada bulan juli
2012. Subyek penelitian adalah siswa kelas X c
yang berjumlah 27 orang, yang
terdiri dari 12 orang laki – laki dan 15 orang perempuan.
Hasil jawaban siswa yang salah tersebut kemudian
dikaji lebih mendalam bagaimana terjadinya kesalahan siswa dalam mengerjakan
soal tes.
Dari uraian tentang subjek penelitian dapat
digambarkan sebagai berikut:
Tahap – tahap pengambilan subyek penelitian
|
Siswa
|
|
Tes
|
|
Lembar jawaban siswa
|
|
Benar
|
|
Salah
|
|
Jenis kesalahan :
1.
Kesalahan
konseptual
2. Kesalahan prosedural
|
|
Dijadikan subjek
penelitian
|
|
solusi
|
|
wawancara
|
|
Faktor penyebab kesalahan
|
|
Tes akhir
|
3.4 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau
fasilitas yang digunakan oleh peneliti dalam mengumpulkan data agar
pekerjaannya lebih baik, dan lebih cermat, lengkap, dan sistematis sehingga
muda diolah( Arikunto, 2002:136). Pendapat lain menyebutkan bahwa istrumen
penelitian adalah alat yang digunakan untuk memperoleh data empiris yang
berguna untuk menjawab masalah penelitian ( sudjana, 1989:172). Dengan demikian
adalah pemilihan instrumen menentukan hasil data yang akan diperoleh dalam
penelitian.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini dibedakan menjadi dua,
yaitu instrumen utama dan instrumen pendukung.
6.
Instrumen
utama
Instrumen utama dalam penelitian
kualitatif adalah penelitian sendiri.
7.
Instrumen
pendukung.
Selain memusatkan manusia sebagai
instrumen yang paling berpengaruh dalam proses pengumpulan data, penelitian
juga membutuhkan instrumen pendukung yang dapat membantu kinerja peneliti dalam
proses penelitiannya. Instrumen pendukung dalam penelitian ini adalah.
1. Tes tertulis
Soal tes tulis dirancang oleh
peneliti, dalam pembuatan soal ini disesuaikan dengan kurikulum yang berlaku
saat ini yaitu KTSP. Soal ini disusun dalam bentuk uraian tentang Sistem Persamaan Linier Dua Variabel. Hal ini
dimaksud kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang telah ditentukan.
Soal tes dibuat dengan mengadopsi soal yang sudah
ada, serta peneliti juga membuat soal sendiri. Soal tes yang disusun berisi
tentang menentukan himpunan penyelesaian dalam menentuakan suatu variabel. Soal
tes yang dibuat sebanyak 5 butir soal.
2.Pedoman Wawancara
Menurut
Kartono ( 1980:171) interview atau wawancara adalah suatu percakapan yang
diarahkan pada suatu masalah tertentu. Ini merupakan proses tanya jawab lisan,
dimana dua orang atau lebih berhadapan secara fisik. Jenis wawancara yang
dilakukan dalam penelitian ini yang dimaksudkan patton (2009:30) adalah
pendekatan denagan menggunakan petunjuk umum wawancara. Jenis wawancara ini
mengharuskan pewawancara membuat kerangkah dan garis besar pokok – pokok yang
dinyatakan dalam proses wawancara.
Petunjuk
umum wawancara dalam penelitian ini hanya berisi tentang garis prosesdan isi
wawancara, karena dalam penelitian ini yang dianalisis hanya kesalahan –
kesalahan siswa dalam mnyelesaikan soal – soal tes tertulis. Sebelum melakukan
wawancara , terlebih dahulu peneliti meminta kejujuran siswa dalam menjawab
setiap pertanyaan , menjelaskan bahwa segala sesuatu yang diungkapkan oleh
siswa dijamin kerahasiannya. Hal ini perlu dilakukan agar siswa tidak enggan
untuk mengungkapkan apa yang ada dalam benaknya.
3.5 Sumber Data
Data yang dikumpulkan dalam penelitian
ini adalah data hasil tertulis tentang pokok bahasan persamaan linier dua
variabel dan hasil wawancara.
3.6 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan untuk
mengetahui faktor – faktor penyebab siswa melakukan kesalahan dalam mengerjakan
tes, dilakukan wawancara pada siswa yang melakukan kesalahan. Siswa yang
melakukan kesalahan yang sama dikelompokkan kemudian dipilih beberapa siswa
yang akan diwawancarai. Pemilihan siswa didasar pada jawaban siswa dan siswa
hanya ditanya soal yang tidak dapat dikerjakan.
3.7 Metode Analisis Data
Analisis data kualitatif menurut Bodgan dan Biklen (1982) adalah upaya
yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data. Mengorganisasikan data,
memilih – milihnya menjadi satuan yang dikelola. Mensintesiskannya, mencari dan
menentukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dapat dikerjakan,
memutuskan apa yang harus dikatakan kepada orang lain ( Moleong, 2008:208).
Menurut Nasution (Dalam sunardi, 1996:28) “ Analisis data adalah
proses menyusun, mengkategorikan data, mencari pola atau teori dengan maksud
untuk memahami maknanya”.
Dalam penelitian metode analisis yang digunakan adalah:
1). Analisis data Deskriptif.
Analisis data deskriptif adalah analisis yang digunakan
untuk mengetahui proposi masing - masing siswa dalam mengerjakan soal siswa
kelas X c SMA
Negeri 01 Kodi Setelah mendapat data dilakukan langkah - langkah perhitungan
sebagai berikut:
1.
Merakapitulasi hasil tes
2.
Mengidentifikasi kesalahan -
kesalahan siswa dalam mengerjakan soal - soal yang diberikan.
3.
Menghitung jumlah dan presentase indikator setiap bentuk kesalahan mengerjakan tes.
4.
Rumus yang digunakan untuk
menghitung presentase adalah:
Keterangan:
P : Presentase
n : Banyaknya kesalahan siswa untuk masing - masing
bentuk kesalahan.
N : Banyaknya kesalahan siswa secara keseluruhan bentuk
kesalahan.
2). Data Kualitatif
Data Kualitatif adalah analisis yang digunakann untuk
mengidentifikasi bentuk- bentuk kesalahan yang dilakukan oleh siswa dalam
mengerjakan soal - soal.
3). Analisis Data
Wawancara
Analisis Data Wawancara adalah analisis yang digunakan
untuk mengetahui faktor penyebab terjadinya kesalahan siswa kelas X c SMA Negeri 01 Kodi dalam
mengerjakan soal - soal pada pokok bahasan
Sistem Persamaan
Linier Dua Variabel.
H.Tahap
– tahap penelitian
|
Mencari informasi
tentang siswa
|
|
Menetapkan tempat
penelitian
|
|
Meminta ijin kepala sekolah tempat penelitian
|
|
Mengurus surat ijin penelitian
|
|
Menyiapkan instrumen
pendukung
|
|
Membuat soal
|
|
Melaksanakan tes
|
|
Mengidentifikasi masalah
|
|
Mewawancarai subjek kesalahan
|
|
Melaporkan hasil
penelitian
|
BAB IV
ANALISIS
DATA DAN PEMBAHASAN
A.
Deskripsi Data
1. Paparan Data Pra Tindakan
Pada hari senin
tanggal 5 agustus 2012 bertemu dengan bapak kepala Sekolah di SMA Negeri 01
Kodi. Nusa Tenggara Timur (NTT) Peneliti menyampaikan tujuan
kedatangannya yaitu melakukan penelitian di sekolah tersebut. Peneliti
menyerahkan surat ijin penelitian dan memberikan gambaran secara umum tersebut.
Kepala sekolah
menyambut baik keinginan peneliti dan memberi ijin untuk melaksanakan
penelitian. Peneliti juga menyampaikan bahwa penelitian akan dilaksanakan
dikelas X dengan mencari dan menganalisis kesalahan jawaban siswa yang
diberikan tes kemudian memberikan solusi penyelesaiannya kepada siswa yang
melakukan kesalahan. Karena kelas X
terdiri dari 4 kelas maka atas saran dari
bapak kepala sekolah, maka dipilihlah kelas X c lebih rendah jika
dibandingkan dengan nilai siswa dikelas yang lain. Kemudian peneliti
dipertemukan dengan guru matematika kelas X c. Peneliti menyampaikan hal – hal
yang akan dilaksanakan selama penelitian, peneliti juga memohon bantuan guru
matematika kelas X c untuk kesediannya membantu penelitian ini agar berjalan
dengan baik.
Berdasarkan pada
studi pendahuluan yang dilakukan peneliti,
terungkap bahwa siswa SMA Negeri 01 Kodi banyak melakukan kesalahan
dalam menyelesaiakan soal matematika. Hal
ini juga diungkapkan oleh guru
matematika yang mengajar SMA Negeri 01 Kodi. Informasi lain yang
diperoleh oleh peneliti dalam studi
pendahuluan ini adalah siswa dikelas X c SMA Negeri 01 Kodi masih kurang
terampil dengan berbagai model soal yang bervariasi. Hal ini didasarkan pada
rekapan beberapa jawaban siswa dalam mengerjakan soal – soal latihan yang
diajukan oleh peneliti.
2. Paparan Situasi Pelaksanaan Tes
Tes
dilaksanakan pada hari senin 14 agustus 2012 dikelas X c yang diikuti oleh 27
orang siswa yang terdiri dari 12 orang
laki – laki dan 15 orang perempuan. Soal yang diberikan pada waktu tes
sebanyak 5 soal dilaksanakan mulai dari pukul 07.00 - 08. 30 WIB dengan alokasi waktu 90 menit.
B.
Analisis Data Jawaban Siswa
Setelah pelaksanaan tes, peneliti
mendapatkan jawaban dari siswa, jawaban
dari siswa tersebut kemudian dikoreksi
oleh peneliti. Setelah itu jawaban siswa yang salah diklarifikasi kesalahannya.
Beberapa siswa yang melakukan kesalahan – kesalahan yang sama dikelompokkan,
kemudian dipilih salah satu siswa yang
akan diwawancarai dan diberikan solusi penyelesaian dari soal – soal yang
diberikan oleh peneliti. Pemilihan siswa didasarkan pada jawaban siswa
dan siswa yang mudah diajak untuk berkomunikasi, sehingga dalam wawancara siswa hanya ditanya pada soal yang
salah kemudian diberikan bagaimana penyelessaiannya. Berikut ini paparan data
dari jawaban siswa untuk setiap butir soal.
Soal
nomor 1:
Tentukan Sistem Persamaan Linier berikut dengan metode Eliminasi!
Soal nomor 1 adalah soal yang tingkat
kesulitanya sedang. Pada soal nomor 1
sebanyak 9 siswa (33,33 %) yang menjawab
benar dan 18 siswa (66,70%) menjawab
salah.
Dari kesalahan yang dilakukan 8 siswa ( 44,44%) melakukan kesalahan
konseptual yaitu salah menafsirkan konsep operasi perkalian dan pembagian, penjumlahan dan pengurangan
bilangan, 4 siswa ( 22,22%)melakukan
kesalahan prosedural yaitu salah dalam memahami dan mencermati perintah soal, 3
siswa ( 16,7%) salah karena tidak melanjutkan proses penyelesaian dan 3 siswa ( 16,7%) tidak mengerjakan soal
karena tidak mengerti proses penyelesaian soal.
Berikut adalah jawaban dari siswa:
Berdasarkan
jawaban siswa diatas :
langkah
1
langkah 2
7
langkah 3
langkah 4
= 20
langkah 5
Jadi,
= 20
dan
langkah 6
Analisis Langkah –
Langkah Penyelesaian Siswa
Dari jawaban siswa langkah ke – 3 sampai dengan 6 yaitu siswa menjawab
7
= 20
Jadi,
= 20
dan
Seharusnya siswa menjawab
6
9
= 1
x = 1 dan y = 2
Dalam pengerjaanya siswa diatas, siswa
melakukan kesalahan prosedural dalam operasi bilangan yaitu kesalahan dalam
mengalikan sehingga salah dalam menentukan nilai
Alasan siswa
menjawab seperti diatas adalah karena siswa kurang teliti dalam pengerjaannya.
Hal ini seperti Cuplikan wawancara
dengan siswa sebagai berikut:
P : “ Bagaimana kamu mengerjakan soal
nomor 1”?
S : “ (Menuliskan sesuatu pada kertas)
“ seperti ini bu peneyelesaiannya”.
6
9
= 1
P:
“kemarin kamu menjawab tidak begitu”?
S:
”saya jawab begitu kok bu benar”?( siswa tidak percaya)
P:
”ini jawaban kamu pada saat tes”.
S: “Oh...iy
maaf bu, itu mungkin saya kurang teliti
yang sebenarnya saya kali 6 tapi kali
7”.
Dari cuplikan
wawancara diatas siswa sebenarnya sudah paham dalam mengerjakan soal nomor 1.
Hanya siswa kurang teliti dalam mengerjakan soal, sehingga siswa melakukan
kesalahan prosedural dalam proses penyelesaiannya. Kesalahan ini dilakukan oleh
1 siswa dengan nomor absen 5. Dapat disimpulkan bahwa siswa diatas sebenarnya
sudah faham dalam mengerjakan soal nomor 1. Hanya siswa kurang teliti
mengerjakan soal, sehingga siswa melakukan kesalahan prosedural dalam proses
penyelesaiannya.
Berikut
adalah jawaban siswa:
Berdasarkan
jawaban siswa diatas:
langkah 1
langkah 2
langkah 3
langkah 4
langkah 5
langkah 6
langkah 7
Analisis
langkah – langkah penyelesaian siswa :
Dari jawaban siswa pada langkah ke – 3 sampai 7
yaitu siswa menjawab
= 2, Seharusnya siswa menjawab
6
9
= 1
Jadi, x = 1 dan y = 2
Dalam pengerjaannya siswa tidak menggunakan
teorema sehingga kesalahan ini dapat disebut kesalahan konseptual. Kesalahan
ini disebabkan siswa kurang faham terhadap konsep pengerjaan soal. Dapat
disimpulkan bahwa sebenarnya siswa belum faham dalam menentukan himpunan
penyelesaian. Kesalahan ini dilakukan oleh 1 siswa dengan nomor absen 1.
Berikut
adalah jawaban siswa:
Berdasarkan
jawaban siswa diatas:
langkah 1
langkah 2
langkah 3
Untuk mencari nilai x, kita
eliminasi y
x 6
6x + 18 y = 42 langkah 4
3x – 18 y = - 33 – langkah 5
9x = 75 langkah 6
X
=
langkah 7
Analisis langkah – langkah penyelesaian siswa:
Jawaban siswa langkah ke – 6 dan
ke – 7 yaitu siswa menjawab 9x = 75 X
=
, seharusnya siswa menjawab; 9
= 1
Jadi,
x = 1 dan y = 2
Kesalahan ini terjadi karena siswa kurang paham
dan masih binggung terhadap konsep pengurangan.
Hal ini seperti yang diungkapkan oleh
siswa pada wawancara berikut:
P: “ Bagaimana kamu mengerjakan soal nomor 1”?
S: “ (menuliskan
sesuatu pada kertas) “begini bu”. (dan menunjukkan jawaban yang ditulis dikertasseperti jawaban
diatas).
P: “ apakah kamu
yakin dengan jawaban ini”?
S: “saya tidak tau
bu, kayaknya benar”.
P: “(peneliti
sambil menunjukkan jawaban tes siswa)”kenapa kok 9x = 75 dari mana?
S:
“oh iy bu, saya binggung, apakah dikurangi atau di jumlahkah, terus gimana bu
caranya yang benar”? (siswa kembali bertanya kepada peneliti).
P:
“ (peneliti sambil menulis pada kertas) “begini”
x 6
6x + 18 y = 42
3x – 18 y = - 33 –
9x =
75
x =
S:
“ (Diam sambil berfikir)” oh iy bu, sekarang saya sudah faham bu,trima kasih bu”.
Dari
cuplikan wawancara diatas siswa kurang faham dan masih binggung dalam memahami
konsep pengurangan,perkalian dan pembagian. Hal ini menyebabkan siswa melakukan
kesalahan konseptual. Kesalahan ini dilakukan oleh 1 orang siswa dengan nomor
absen 23.
Berikut adalah jawaban siswa:
Berdasarkan
jawaban siswa diatas:
langkah 1
langkah 2
langkah 3
Analisis langkah – langkah penyelesaian siswa:
Jawaban siswa pada langkah ke – 3, siswa
tidak melanjutkan pengerjaannya. Hal ini dilakukan oleh siswa karena kurang
dapat membagi waktu dalam mengerjakan soal sehingga ketika waktu akan habis,
siswa baru menyelesaikan soal nomor 1. Dapat disimpulkan bahwa siswa diatas
sebenarnya dapat mengerjakan soal dengan benar tetapi karena waktunya sudah
habis sehingga siswa tidak dapat menyelesaikannya. Hal ini disebabkannya siswa
melakukan kesalahan prosedural. Kesalahan ini dilakukan 2 siswa dengan nomor
absen 18 dan 21.
Seperti yang diungkapkan oleh siswa pada
wawancara:
P:”Bagaimana kamu mengerjakan soal nomor 1”.
S:” (menuliskan
sesuatu pada kertas) “begini bu”. (dan menunjukkan jawaban yang ditulis dikertas seperti jawaban diatas)”.
, Bu jawaban saya sampai disini kemarin”.
P:
“Kenapa kamu tidak melanjutkan pengerjaannya ”
S:”
Saya sudah kehabisan waktu bu, pada saat saya mengerkan soal nomor 1 waktunya
tinggal 2 menit bu”
P:”
(peneliti menanyakan lagi,berarti kalau waktu nutut berarti kamu bisa
menyelesaiakan ya”?
S:”iy
bu,”
P:
“Kamu kurang membagi waktu dengan baik, kamu menghabiskan waktu di soal – soal
yang lain, nanti kalau ada ulangan atau ujian kamu harus pintar membagi waktu
dan usahakan mengerjakan soal – soal yang di anggap muda”.
S:”
iy bu, trima kasih bu”
Bisa sy minta daftar pustakanya?
BalasHapusPlase minta daftr pustakanya donk untuk "Menurut Soedjadi (2011:1), dari kesalahan – kesalahan yang dibuat oleh siswa pada Sistem Persamaan Linier Dua Variabel dapat diklasifikasikan beberapa bentuk kesalahan"
BalasHapus